Hukumnya merasa sial, meramal (Thiyarah)

Dahulu orang arab jahiliyah sering menjadikan burung sebagai tanda baik dan buruknya sebuah hari sebelum mereka bepergian atau perjalanan berdagang, karena mereka percaya apakah hari itu sial atau tidak dapat ditentukan oleh kemana arah burung terbang. Misalnya salah seorang dari mereka memegang burung lalu melepaskannya. Jika burung itu terbang kearah kanan maka ia optimis sehingga melangsungkan pekerjaannya, sebaliknya, jika burung itu terbang ke arah kiri maka ia merasa bernasib sial dan mengurungkan pekerjaan yang diinginkannya.

Anehnya tradisi jahiliyah seperti itu masih melekat pada sebagian kaum muslimin saat ini. Misalnya meyakini ada hari yang sial, benda yang sial, pakaian yang membawa sial, warna yang sial, angka yang sial dan sebagainya.

Contoh lain, misalnya tidak mau melakukan pernikahan pada bulan shafar. Percaya hari rabu adalah hari sial. Termasuk juga merasa sial dengan angka angka tertentu, nama-nama tertentu atau orang cacat. Misalnya, jika ia pergi membuka tokonya lalu di jalan melihat orang buta sebelah matanya, serta merta ia merasa bernasib sial sehingga mengurungkan niat membuka toko. Juga berbagai kepercayaan yang semisalnya.

Perkara ini termsuk pada kesyirikan, yaitu mempercayai keburukan yang datangnya dari benda benda tersebut dan di atas atau sebaliknya percaya pada benda yang sangat membawa pada keberuntungan, jimat misalnya, atau patung kucing lucu yang kepercayaannya dapat memanggil hoki atau rezky, maka sungguh itu perbuatan syirik. “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].

"Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ibnu Majah)

Didalam Islam kpercayaan (ramalan) terhadap sial seperti itu disebut " Thiyarah ".

“Thiyarah adalah syirik”

Termasuk dalam kepercayaan yang diharamkan, yang juga menghilangkan kesempurnaan tauhid dan tawakkal kepada Allah.Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berlepas diri dari mereka. Sebagaiman adisebutkan dalam hadits riwayat Imran bin Hushain :

“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan (dan saya kira juga bersabda) dan yang menyihir atau yang meminta disihirkan [Hadits riwayat at Thabrani dalam Al Kabir : 18 / 162, lihat shahihul jami’ no : 5435].

Untuk menghilangkan was was atau godaan iblis yang meyakini bahwa itu sial maka bertawakkal lah kepada Allah....Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : (Thiyarah) Ramalan mujur-sial adalah syirik. (Beliau mengulanginya tiga kali) dan tiap orang pasti terlintas dalam hatinya perasaan demikian, tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakal. (HR. Bukhari dan Muslim)Allahu a'lam

[ Abdullah Hamza ]

Maraji :
* Dosa - dosa yang di anggap biasa, Muhammad shalid al-munajjid
* Bimbingan untuk pribadi dan masyrakat
* 1100 hadits terpilih, (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press

Perbedaan Istilah Al-Hadits dan As-Sunnah

Istilah  Al-Hadits dan As-Sunnah sering kita campur adukkan atau menganggapnya sama saja, padahal dalam ulumul hadits tidaklah demikian. Memang di antara kedua istilah itu ada kesamaan, tapi sesungguhnya tetap ada perbedaan.

Istilah Al-Hadits tidak hanya mencakup apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam saja, tetapi juga apa yang menjadi ucapan dan perbuatan para shahabat , juga ucapan dan perbuatan ulama tabi'in (pengikut shahabat) juga termasuk di dalam hadits. Karena itu didalam Kitab ulumul hadits kita mengenal istilah hadits mauquf dan hadits maqthu.’ Sedangkan hadits marfu' adalah hadits yang disandarkan kepada rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Hadits mauquf adalah hadits yang periwayatannya tidak sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi hanya sampai kepada ucapan shahabat saja mitsal sebuah hadits mauquf dari penuturan Ibn Jarir bin abdillah al - bajjali r.a sebagai berikut :"Kami memandang bahwa berkumpulnya orang - orang di tengah tengah keluarga mayit dan penghidangan makanan oleh keluarga mayit setelah penguburannya adalah bagian dari perbuatan niyahah (Meratapi mayat) " (HR Ahmad dari Ibn Majah) [1]

Hadits ini menunjukkan ungkapan dari shahabat Ibn Jarir bin abdillah al - bajjali dan beliau tidak menyandarkan hadits ini kepada rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena memang hadits ini periwayatannya hanya pada level shahabat.Dan hadits ini di takhrij oleh imam ahmad dari Ibnu majah.

Hadits mauquf dalam istilah ulama Fuqaha (ahli fiqih) khurasan mereka menyebutnya hadits atsar. [2]

Sedangkan Hadits maqthu’ adalah hadits yang periwayatannya ucapan dan perbuatan hanya sampai ke level ulama tabi’in 1 (pengikut shahabat).

Sedangkan ketika kita menyebut istilah As-Sunnah, maksudnya selalu adalah sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saja, dan bukan sunnah dari para shahabat beliau.Sunnah menurut para ahli hadits adalah segala sesuatu yang dikutip dari rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam baik yang berupa ucapan, perbuatan, pengakuan, atau sifat fisik dan akhlak ataupun perjalanan hidupnya.[3]

Sedangkan menurut istilah disiplin ilmu ahli ushul, bukan menurut ahli fiqih. Menurut disiplin ilmu ushul fiqih , sunnah adalah : "Segala yang diriwayat dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrir (sikap mendiamkan sesuatu yang dilihatnya). [4]
Allahu a'lam

[ Abdullah Hamza ]

Catatan kaki:
[ 1 ] Ust Arief B. Iskandar , risalah tahlilan menurut aswaja
[ 2 ] Ibnu Nashirudin Al-Dimasyqi, Mutiara ilmu atsar kitab klasifikasi hadits
[ 3 ] Taujih an-Nazhar oleh al- jaza 'iri dalam kitab karya Ibnu Nashirudin Al-Dimasyqi, Mutiara ilmu atsar kitab klasifikasi hadits
[ 4 ] Ahmad sarwat LC, Bab as-sunnah dalam kitab seri Fiqih kehidupan.

Harusnya kita tidak berubah....

Dulu Indonesia dikenal Negara yang masyarakatnya santun dan saling menghargai.
Sekarang di era digital, era teknologi, malah sebaliknya.
Sebagian besar masyarakat Indonesia dengan mudah saling menghina, mencaci, dan itu terlihat jelas di sosial media. Kadang belum jelas fakta benar dan salahnya sudah ada yang berkomentar ini dan itu bahkan ketika itu menguntungkan pihaknya maka dengan segera tanpa pikir panjang, tanpa tabayyun menshare dan berkata ini dan itu, baik itu oknum dari kelompok A maupun B.

Mari kita renungi ayat ini ...

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Maa'idah [5] : 8)

Saudaraku...
Janganlah kita mudah di adu domba oleh musuh - musuh Islam.
Mereka akan sangat senang jika kita hanya sibuk sesama muslim dan melupakan tujuan utama kita dalam menegakkan Islam dimuka Bumi ini.

* Semuanya bermuara di demokrasi.
Karena di zaman demokrasi sekarang ini katanya setiap orang bebas berpendapat dan bersuara sehingga dampak kebebasan yang tak terkendali dan tidak terbatas justru menghantarkan kita pada kebebasan yang salah.
Setiap orang dengan mudahnya mencaci menghina, bahkan para ulama pun tidak lepas dari celaan orang - orang yang mencela tersebut.
Astaghfirullah ...

Ini adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kita harus kembali pada sistem Islam. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan yang ada di diri kita.
Ingatlah kita bahwa rasulullah mengingatkan kita.

Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Memaki orang muslim adalah kedurhakaan dan membunuhnya adalah kekufuran." Muttafaq Alaihi.

"Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan yang suka melaknat, bukan yang berperangai jahat, dan bukan pula yang berlidah kotor." Hadits hasan dan shahih menurut Tirmidzi.

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan aibnya, sehingga ia tidak memperhatikan aib orang lain." Riwayat Al-Bazzar dengan sanad hasan.

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat." Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Allahu a'lam
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam kebenaran dan ketaqwaan. aamiin

[ Abdullah Hamzah ]
 

Afifah, Si Cerdas nan Penyayang yang Hafal Al-Qur’an

Bertempat di sebuah mushola hijau di sisi sungai yang besar dengan pepohonan yang rimbun, sungguh suasananya benar-benar asri menyejukkan. Lama tak menulis kisah inspiratif seputar menghafal Al-Qur’an. Semoga bisa menginspirasi kawan-kawan. Kali ini tokoh utamanya adalah adek Afifah :). Memang bukan kisah pertama kali berjumpa, karena kami pertama bertemu ketika buka puasa bersama di Ma’had Umar bin Khattab, juga pernah bertemu ketika aku mengantar ustadzah dan singgah di rumahnya. Akan tetapi ini adalah sedikit kisah pertemuan pertama kami sebagai pengajar dan murid.

Di mushola hijau ini, ketika dia datang lebih awal dari teman-temannya yang lain. Adek Afifah memang paling besar dibandingkan teman-teman belajarnya yang bahkan masih PAUD dan TK. Maka sebelum memulai belajar Al-Qur’an, aku ingin mengenal dia lebih dekat. Aku pun menanyakan hafalannya sebanyak apa sekarang? “7 juz”, singkat, padat, tapi sangat mengejutkan!

Bagaimana perasaan kalian jika harus mengajar Al-Qur’an anak SD yang hafalannya 7 juz ??? Ya, sekitar itulah perasaanku saat mengetahui hafalannya. “7 juz?? Beneraan 7 juz ding??” Tanyaku tampak meragukan jawabannya. Ia pun juga mengulang2 jawabannya dengan yakin dan penuh senyum, “Alhamdulillah sudah 7 juz ustadzaaah, sekarang sedang menyelesaikan surah Al-Baqarah”. Sungguh bukan aku tidak percaya, hanya saja benar-benar anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala aku bisa berjumpa dengan penghafal Al-Qur’an cilik ini. Tiada yang mampu terucap dari lisan ini selain pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Bahkan saat iseng kutanya berapa banyak hafalan kakaknya yang masih duduk di bangku SMP? Segera ia menjawab, “alhamdulillah sudah 26 juz ustadzah, sisa sedikit lagi khatam”, serasa ada bahagia penuh haru bercampur malu atas apa yang ada pada diri. Benar-benar malu kepada Allah. Sudah kukatakan bahwa cukup panggil kakak saja, jangan ustadzah. Tapi dia hanya senyum dan tetap memanggil seperti yang dia mau. Allaaah, sungguh aib hamba tak mampu terhitung, dibanding ilmu hamba yang ibarat sebutir pasir di tengah gurun. Semoga panggilan itu menjadi do’a dan tidak memberatkan hamba dalam masa perhitungan kelak.

Hari itu dia menyelesaikan tahsin tilawah surah Ibrahim. Dia mampu menyadari sendiri kesalahannya yang bahkan terlewat dari perhatianku. Hanya sekitar 4-5 kali kesalahan kecilnya, 4 kali salah mengucap huruf dan terlewat dengung ikhfa satu kali, sisanya mumtaaz, maasyaAllah. “Shodaqollaahul ‘adziim”, dia menyelesaikan tilawahnya. Aku masih terdiam, air mata pun tak tertahan. Bacaannya benar-benar sempurna. Makhrojul hurf, harokat, dengung, waqofnya maasyaAllah. Adek afifah benar2 cerdas ketika membaca ayat panjang, dia mampu mengatur nafasnya yang tidak panjang agar berhenti dan memulai dengan sempurna. Sungguh dengan logika manapun, aku lah yang harusnya banyak belajar dari adek Afifah. Tapi begitulah pribadinya, lembut, penyayang, sangat menghargai orang lain, tak pernah sekalipun dia merasa lebih tinggi, benar-benar akhlak yang menurun dari didikan kedua orang tuanya.

Tentu tiap pertemuan waktu dengannya tidak pernah ku sia-siakan. Setiap jawaban polosnya tidak mampu kubayangkan, senantiasa menenangkan dan melecut dalam kebaikan. Bincang-bincang kami penuh tawa, aku hanya tidak ingin dia merasa diinterogasi karena banyak sekali yang membuatku penasaran tentang perjalanan hafalannya. “Ding, menghafalnya sejak kapan?” tanyaku “Duh, udah dari dulu ustadzah, dari kecil.. kapan yaa, mungkin kelas satu” jawabnya. Aku terkejut, membayangkan apa yang tengah kulakukan di usiaku waktu seumuran dia, subhanallah. “Siapa yang mengajari menghafal sejak kecil?” lanjutku, “Ummi” singkat jawabnya. “Sama siapa menyetor hafalannya?” “Sama siapa murojaahnya?” tambahku, “Ummi” “Ummi” jawabnya masih sama.

Allahu Robbi, semakin diingatkan bahwa anakku kelak berhak mendapatkan pengajaran Al-Qur’an langsung dari bundanya. Semoga bisa terwujud, aamiiin. Tapi jangan khawatir para ayah, Adek Zahra, teman Adek Afifah ini pun pernah kutanya siapa yang mengajari dan menemaninya membaca Al-Qur’an di rumah? Dia dengan bangga menjawab, “Abi!”, Allahu Akbar!

Kembali ke Adek Afifah. Rasa haru makin menyesakkan dada, aku tahu bagaimana sibuk ummu afifah ini, beliau adalah salah satu ustadzahku di ma’had umar bin khattab. Pagi, siang, dan sore aktifitas beliau mengajar. Sederhana dalam sunnah, lisan ustadzah hanya untuk ilmu dan nasihat penuh kelembutan, kesan pertama itu yang kudapat dari keluarga beliau dan terus bertambah mengagumi hingga kini.

“Ading pernah nggak merasa capek atau lelah kalo menghafal? Kan menghafal sama murojaahnya setiap hari?”  akupun meneruskan perbincangan. “Nggak” jawabnya penuh keyakinan, maasyaAllah. Adek Afifah melanjutkan “Menghafalnya memang setiap hari, murojaahnya juga setiap hari. Tapi kalo lagi ulangan istirahat dulu menghafalnya, Cuma murojaah aja, kalo hari minggu libur itu banyak banget dapatnya ustadzah”, “tapi pernah sih ustadzah, kalo belum selesai menghafal, jadi bilang ke ummi, boleh ya mii nyetor hafalannya nanti malam saja” lanjutnya sambil malu-malu. Ya Akhowatyy, bahkan ketika hafalan harian itu belum disetor, bukan meminta waktu sampe besok, tapi cukup sampai nanti malam, nampak sekali kebiasaan ini mendarah daging dalam dirinya. Bahkan jawabannya saaat kutanya sebanyak apa ketika sekali menghafal tambah menyulitkan aku menahan air mata ini. Allah, Allah, Allah.

Dia benar-benar akhowat yang cerdas, dia telah memiliki rencana kemana dan apa yang akan dia pelajari di masa depan, cita-cita yang sungguh mulia ada dalam pemikiran belianya. Adek Afifah juga benar-benar akhowat penyayang, hal itu sangat tampak bagaimana dia mengajak serta menuntun adik-adiknya serta turut mengajari ketika belajar. Pagi di sekolah, sore di mushola, dan malam bersama orang tua, Adek Afifah sekeluarga belajar Al-Qur’an. Tiada merasa cukup jika itu adalah waktu interaksi bersama Al-Qur'an. Cintanya murni kepada Al-Qur’an, tiada lelah, tiada jadi beban. Terima kasih telah mengajarkan kakak begitu banyak pelajaran. Adek Afifah, si cerdas nan penyayang yang hafal Al-Qur’an ini bersama saudara-saudarinya benar-benar pondasi penting menuju negara yang mengamalkan Al-Qur’an. Generasi seperti mereka hanya mampu dijaga oleh negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna. InsyaaAllah, meskipun di tengah rusaknya sistem pemerintahan sekuler saat ini, kitapun bisa mendidik putera-puteri kita sejak dini, dan indikator keseriusan itu akan tampak dari seserius apa usaha kita memantaskan pribadi saat ini. Semoga tetap istiqomah. Aamiiin.

imania asoka

Dicopy dari http://kerudungbirumuda.blogspot.com/2014/04/afifah-si-cerdas-nan-penyayang-yang.html

Halim, cilik nan sholeh ^_^


Kali ini aku ingin menceritakan sepenggal momen yang terjadi beberapa waktu lalu. Hari ini aku pergi ke markaz tahfidzul qur'an Al-Ihsan, minggu pagi yang cerah. Hanya ada aku, ustadzah dan kedua anak beliau. Putra kelima bernama Halim dan putri bungsu keenam yang sering dipanggil imah^^ dan episode kali ini yang menjadi tokoh utamanya adalah dede Halim :D, Semoga memberi banyak hikmah dan inspirasi kepada kawan-kawan semua.

Ustadzah masih repot didalam, jadi sebelum memulai aktivitas, aku membaca al-qur'an yang posisinya berdekatan dengan jendela. Tidak lama saya merasa ada orang yang melewati jendela, saya kaget sebentar lalu meneruskan bacaan. Lalu mendadak adek Halim dengan cepat naik-naik keatas meja(menggapai jendela), tengok kanan kiri dan segera menutup ketiga jendela. "Brak.. brukk.. brak.." Itu membuat aku kaget sangat dan menghentikan bacaan."Aduuh, dede Halim. Kaka lagi baca Qur'an, kegelapan jadinya" gumamku dalam hati. Aku hanya senyum seolah itu kenakalan anak-anak pada umumnya.. dan senyumku seolah menyatakan "jangan nakal ya^_^"

Diluar dugaan terjadi hal yang mengagetkan, Halim memperhatikan senyumku dan seolah dede Halim tau maksud senyumku. Dia malah berkata seolah meluruskan "Abinya Abdullah lewat". Sontak membuatku terkejut. Kalian paham?? tindakannya tadi bukan merupakan kenakalan anak-anak, akan tetapi merupakan tindakan penyelamatan. Masya Allah, kali ini aku tersenyum lebar dan mengangguk ^___^ menyatakan persetujuanku pada tindakannya. Diapun segera berlalu.

Kalo kalian tanya Penyelamatan yang bagaimana?? Begini, ummi nya Halim bercadar. Tampaknya dia sudah paham bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal dan tempat berteduh. Tapi juga paham bahwa rumah adalah tempat dimana wanita boleh menggunakan pakaian kesehariannya dan melepas cadar (untuk umminya). Dia paham bahwa dirumah, setiap wanita mesti terjaga dari pandangan dari luar terlebih non mahram.

Walaupun saat itu tidak ada umminya yang mesti 'diselamatkan', akan tetapi disana ada aku, seorang wanita yang juga berhak 'terjaga'. Meski waktu itu sebenarnya aku sedah memakai jilbab kerudung lengkap, atau bahkan abinya abdullah tidak melihat kedalam. Justru disana letak kecerdasannya, dia melakukan tindak pencegahan, bukan tindakan pengobatan. Dia seolah terprogram otomatis.

Masya Allah, masih sangat kecil, mungkin masih belum 5 tahun. Akan tetapi didikan Islam telah menjadi standar perbuatannya. Sekali lagi diri melihat, bahwa menddidik anak sedini mungkin, ibarat menulis di kertas kosong, kita bisa menulis dan memberi warna sesuai keinginan. Tindakan dan nasehat yang diulang2 telah membuat kebiasaan pada diri Halim.. Dalam usia yang bisa disebut masih balita, seolah bibit tanggung jawab, seorang penjaga dan pelindung talah tampak tunasnya yang siap mengakar..

Halimku, cilik nan sholeh, dia memanggilku "kaka".. Kelak pasti dalam beberapa tahun kedepan, sudah tidak ada lagi canda apalagi peluk :). Saat dimana nanti kamu menjadi seorang hafidz, bukan hanya penjaga Al-Qur'an, akan tetapi penjaga kemuliaan Islam dan kehormatan muslim seluruhnya insya Allah.

imania asoka
01 Oktober 2012
08.20 pm

Dicopy dari http://kerudungbirumuda.blogspot.com/2012/10/halim-cilik-nan-sholeh.html

Untuk saudaraku yang sedang Futur

Saudaraku ....
Allah tidak memberikan amanah dakwah yang mulia ini kecuali kepada orang - orang yang terbaik sehingga tentu dalam menjalaninya tidaklah semudah, tidaklah segampang, tidaklah semulus dan tidaklah selempeng yang kita bayangkan.
Kita akan menemui halangan, rintangan, hambatan, dan berbagai ujian.

Selain faktor eksternal yang akan mengpengaruhi atau menghambat proses kita menjadi hamba yang terbaik sebagaimana firman Allah dalam surah ali imran ayat 110, juga faktor internal didalam diri kita akan menghambat kita seperti perasaan futur dalam dakwah, futur dalam ibadah, merasa lelah dalam dakwah, perasaan jenuh, malas dan sebagainya. Setiap aktivis muslim mungkin pernah merasakannya.
Tapi jika kita mengalami demikian maka janganlah berlarut - larut dalam kondisi tersebut, apalagi melampiaskannya keduniawi, karena sungguh iblis akan mudah menggoda kita dalam kondisi tersebut, maka segeralah perbaharui iman kita.
Misal dengan tilawah qur'an atau mendengarkannya, memutar video perjuangan ikhwah kita dibelahan negeri lain, membaca shiroh perjuangan para sahabat, kembali berkumpul dengan jamaah, sharing dengan murobbi atau saudara - saudara kita yang dapat menyemangati kita dalam perasaan futur dll.

Saudaraku...
Kita pasti akan menemui masa masa sulit. Masa masa yang melelahkan dan berbagai ujian. Padahal kita tengah berjalan di atas jalan kebenaran dan kita pun tengah disibukkan dalam berbagai aktifitas perjuangan Islam.
Apabila kita teguh di atas kebenaran dan sabar dalam menghadapi ujian maka Insya Allah kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang dan akan berganti menjadi kebahagiaan, nikmatnya ukhuwah dan ganjaran pahala dalam Jannah-Nya kelak. aamiin

Sungguh Allah Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَاعْتَصَمُواْ بِاللّهِ وَأَخْلَصُواْ دِينَهُمْ لِلّهِ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْراً عَظِيماً
"orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar."(QS An - Nisa : 146)

Allahu a'lam

* Abdullah Hamza

Catatan untuk para penghafalAl-Qur'an

Saudaraku yang dirohmati Allah...Alhamdulillah dari waktu ke waktu saya perhatikan sudah lumayan banyak peminat penghafal qur'an, tidak hanya dari kalangan anak - anak tapi juga dari orang yang sudah berumur. Tempat tempat yang menyediakan tahfidz qur'an pun mulai banyak didirikan.

Ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya pribadi.Namun ketika kesulitan dalam menghafal sudah mulai kita rasakan, ditambah banyak kesibukan, agenda dakwah atau pekerjaan yang menyita banyak waktu kita yang paling penting adalah  kita harus tetap istiqomah dan jangan hilang seiring berjalannya waktu. Jika terjadi yang demikian maka saya sarankan "INGATLAH niat awal ketika kita ingin menjadi Hafidz qur'an".

Semoga Allah memudahkan antum, aamiin...:) Dari Utsman radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4639)

Banyak hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang memotivasi kita untuk menghafal Al Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah Subhanahu wa ta'ala. 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: “Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR. Tirmidzi, hadits hasan {2916}, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih)

Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Tidak boleh ada hasad (kecemburuan) kecuali pada dua hal. (Pertama) kepada seorang yang telah diberi Allah (hafalan) Al Qur`an, sehingga ia membacanya siang dan malam. (Kedua) kepada seorang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan, lalu dibelanjakannya harta itu siang dan malam (di jalan Allah).” (HR. Al-Bukhari no. 4638 dan Muslim no. 1350)

وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا عليه

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga bisa menjadi penyemangat khususnya saya pribadi dan para santri tahfidz qur'an lainnya dan semoga kita dimudahkan dalam urusan ini. aamiin

# RohimahuLlah (penulis)..... dengan sedikit pengembangan Abdullah Hamza..

Masa membaca penting?

Apakah membaca itu penting???
Hmhm banyak yang masih mikir nih kayaknya.... :}

Saudaraku, ingat wahyu pertama (surah) yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril a.s ?

Surah Al - Alaq. Dan Ayat yang pertama berbunyi adalah اقْرَأْ " Bacalah ". [ 1 ]

Kenapa ayat pertama yang berbunyi " Bacalah "?
Sesungguhnya bisa saja ayat pertama yang turun selain itu, misal tentang mentauhidkan Allah, namun faktanya tidak, ayat pertama yang turun adalah menyuruh untuk " Bacalah ".
Sungguh Allah Maha mengetahui, walaupun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi (tidak bisa membaca) namun tetap malaikat jibril mengatakan " Bacalah " sampai tiga kali." Bacalah" adalah sebuah perintah yang jelas, ringkas, to the point yang akan menjadi pedoman hidup manusia.[ 2 ]

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saudaraku....
Tidakkah kita memahami, bahwa membaca bukanlah sebatas sebuah hobby (kegemaran) yang dengannya orang boleh memilih suka dan tidak suka, saya katakan tidak seperti itu.
Melainkan membaca itu adalah sebuah keharusan, perintah yang di ajarkan Allah kepada kita ummat Islam, ummat nabi muhammad agar dengannya kita dapat memahami konsep hidup dan menjalaninya sesuai dengan tuntunan syariat.

Harusnya ini menjadi renungan kita , kenapa hari ini kita masih malas membaca? Sedangkan Rasulullah saja di suruh untuk membaca walaupun beliau adalah seorang yang ummi.

Mari simak ungkapan salafush sholeh :
Sebaik baik kekasih dan teman adalah buku
Engkau bisa berduaan dengannya saat semua kawan mengkhianati, 
Ia takkan membongkar rahasiamu, tak pula menjelek jelekkanmu
Yang kau dapatkan darinya hanyalah kebijaksanaan dan kebenaran....

Al Jahiz rohimahuLlah berkata " Barangsiapa yang membeli buku tidak merasa lebih nikmat daripada saat membelanjakan hartanya untuk membeli hal hal yang diinginkan... sesungguhnya ia belum mencintai ilmu".[ 3 ]
SubhanaLLahu...

Kesimpulannya membaca akan membuat kita jauh lebih hidup, selanjutnya buku yang seperti apa yang kita baca?Tentu buku - buku yang tidak hanya mencerdaskan tapi juga buku buku yang dapat menambah tsaqafah kita didalam Islam namun juga kemapanan kepribadian kita... 
Dan salah satunya untuk mempermudah antum mendapatkannya silahkan berkunjung ke http://buku-islami.net/      
 :)

*Abdullah Hamza

Maraji"
[ 1 ] Tafsir Imam Ibnu Katsir Surat Al-’Alaq (96), Ayat 1-5.
[ 2 ] "Spiritual Reading" Dr Raghib As-Sirjani, penulis buku super best seller "Misteri sholat Subuh"
[ 3 ] Kitaabul - Hayawan : 1 / 55


Jangan saling sikut sesama aktifis Islam

Perbedaan harokah tidak seharusnya membuat kita saling serang, atau saling menghina dan melecehkan sesama muslim. Harusnya saling bersinergi untuk perjuangan Khilafah Islam.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ”Seandainya setiap kali dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah itu saling menjauhi dan memusuhi, niscaya tidak akan tersisa sedikitpun ikatan ukhuwah diantara kaum muslimin” [ Majmu’ Al-Fatawa : 24/173 ]


Islam memandang menghujat dan berkata tidak senonoh sebagai perbuatan tercela dan tidak terpuji. Apalagi jika perkataan yang dibumbui dengan kebencian dan nafsu, maka tuduhan akan terlontar dalam ucapan-ucapan yang tidak senonoh dan dusta kepada saudara sesama muslim dan selalu mencari cari kelemahan dan kekurangan saudaranya.


Di dalam Sunan Tirmidzi terdapat riwayat yang menceritakan hadits dari jalan Ibnu ‘Umar, beliau berkata :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan menyeru dengan suara yang lantang:  “Wahai segenap manusia yang masih beriman dengan lisannya namun iman itu belum meresap ke dalam hatinya janganlah kalian menyakiti kaum muslimin.
Dan janganlah melecehkan mereka. Dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang sengaja mencari-cari kejelekan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengorek-ngorek kesalahan-kesalahannya. Dan barang siapa yang dikorek-korek kesalahannya oleh Allah maka pasti dihinakan, meskipun dia berada di dalam bilik rumahnya.” (Hadits ini tercantum dalam Shahihul Musnad, 1/508)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 38)

Sebagian orang bijak mengatakan dalam syairnya:
Kita mencela masa, padahal aib itu ada dalam diri kita
Tidaklah ada aib di masa kita kecuali kita
Kita mencerca masa, padahal dia tak berdosa
Seandainya masa bicara, niscaya dia lah yang ‘kan mencerca kita...(lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 41)


“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al maidah [5]:8)
Terimalah kebenaran darimanapun datangnya.
Jangan sampai kita menjadi orang yang taqlid buta (fanatik buta) terhadap suatu harokah, tidak ada kesempurnaan kecuali itu hanya milik Allah dan syariat-Nya yang Mulia.

Dengan timbangan yang adil, maka penilaian kita bisa jadi proporsional.
Wallahu a'lam


[ Abdullah hamza / rahmi Hidayat ]

Cinta yang mendalam para sahabat kepada Rasulullah


Diriwayatkan dari Aisyah ra. istri Rasulullah saw. ia berkata, "Ketika
Rasulullah saw. wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail berkata, "Yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, "Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. tidak meninggal. ‘Aisyah ra. melanjutkan, Kemudian Umar berkata, "Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akani membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangán mereka (yang menga-takan beliau telah mati, pent.)

Tertawa dan Dakwah

Bismillahirrohmanirrohim .....
Saudaraku,,, Apakah anda sering menonton lawakan atau sering menonton hal hal yang sering membuat anda tertawa sampai terpingkal pingkal (terbahak bahak) ?
Jika demikian sungguh itu perbuatan sia sia, hiburlah diri seperlunya tapi jangan melupakan Allah, melupakan akhirat.

فَلْيَضْحَكُواْ قَلِيلاً وَلْيَبْكُواْ كَثِيراً
"Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak,..." [ QS At Taubah : 82 ]

Mengingatkanmu wahai Muslimah

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokaatuh...

Sebelumnya mohon maaf jika tulisan ini sedikit menyinggung .....
Semoga dibaca dengan hati yang lapang dan silahkan dikoreksi ....

Saudaraku .....
Seorang Muslimah selayaknya dia menjaga dirinya dari hal - hal yang dapat membuat dirinya menjadi sorotan lelaki.

Perbedaan sanad dan Matan dalam Ilmu Hadits

Saudaraku yang dimuliakan Allah .... Sedikit kita membahas tentang apa itu sanad dan matan, yakni perbedaan sanad dan  matan dalam Ilmu hadits.

Sebenarnya didalam ilmu hadits, yang dapat menguatkan sebuah hadits itu dapat diterima adalah sanad karena sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang yang menghimpun atau membukukan) hadits.

Pengertian Dasar Ilmu Hadits.

Saudaraku rohimahullah… Alhamdulillah Atas izin kita dapat berjumpa kembali walau hanya lewat tulisan. segala puji dan syukur hanya untuk-Nya. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan  dan memohon ampun kepada-Nya. Karena sungguh tidak ada daya dan upaya diri kita kecuali atas izin Allah, “Laa Haula wala quwwata illa biLlah”.
Insya Allah Pada tulisan ini akan menjelaskan mengenai  Pengertian dasar ilmu hadits.


Untukmu Para Aktivis...




Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak.
Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib
organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader
anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu
bangga padamu. 
Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya
nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak?

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com